Antara Pasangan Hidup dan Rem

Dalam hal keputusan bisnis dan investasi, pasangan hidup itu seperti rem.

Selalu Ada 2 Ekstrim

Selalu ada 2 ekstrim dalam hal ini. Pertama, pasangan hidup yang kurang bisa menjaga / tidak berfungsi sebagai rem dan kedua, pasangan hidup yang terlalu over-protektif / terlalu banyak melarang.

Pada ekstrim yang pertama, pasangan hidup tidak bisa mengerem keputusan suami / istri dalam berbisnis, sehingga peluang bisnis apa pun diambil. Suami / istri tidak bisa menjaga pasangannya agar tidak melakukan kesalahan dalam keputusan.

Ada peluang yang sedikit bagus, diambil, tanpa dilakukan perhitungan lebih matang. Ada penawaran yang terlihat “sensasional”, memberikan keuntungan besar dalam waktu cepat (tanpa harus susah-susah bekerja), diambil, padahal bisa jadi itu penipuan. Ada peluang bisnis yang sedang musim, diambil, padahal bisa jadi itu sesaat.

Akhirnya bisa ditebak. Kesalahan keputusan itu berbuah musibah. Perhitungan meleset, keuntungan tidak didapat, kerugian di depan mata.

Tipe yang kedua, pasangan hidup “terlalu banyak mengerem”. Setiap pasangannya ingin mengambil sebuah keputusan bisnis / investasi, selalu dilarang. Alasannya banyak, mulai dari takut rugi, takut di tipu, takut tidak balik modal, takut susah jualannya, takut putaran uangnya lambat, takut uang tidak kembali dan masih banyak lagi.

Mana Keputusan Terbaik? Yang “Berbeda” atau “Mainstrem”

Berbeda dengan tipe pertama, akibat dari pasangan hidup tipe kedua ini cenderung “tidak kelihatan” dan laten. Kenapa? Sebab memang pada masa kini, pada kehidupan mereka aman-aman saja. Tidak kena resiko ini-itu. Bahasa kita “comfort zone”.

Namun tidak di masa mendatang. “Terlalu takut” ambil keputusan bisnis dan investasi itulah justru yang akan membahayakan mereka berdua di masa depan… Kenapa? Nah ini bahasan yang menarik…

Sebagaimana kita tahu, masa depan itu un-predictable, sulit ditebak. Ya, kita bisa adakan perhitungan ini-itu, perencanaan ini-itu. Tapi tetap saja masa depan itu penuh ketidakpastian.

Maka cara terbaik hadapi masa depan adalah membangun karakter pembelajar, karakter berani mengambil resiko, karakter yang siap beradaptasi dengan ketidakpastian, karakter siap berubah dan siap untuk mengambil keputusan-keputusan yang tidak biasa.

Margin 100%, BEP maks 2 bulan, disupport manajemen, pasar terus berkembang, ini pilihan bisnis terbaik >> KLIK DI SINI !

Mereka yang berani ambil keputusan “berbeda” hari ini dibandingkan “keputusan mainstream” banyak orang, bisa jadi hari ini cenderung menjalani hidup penuh ketidakpastian, masuk area “un-comfort zone“, suasana hidup yang bisa jadi “tidak diimpikan” banyak orang (maklum, kebanyakan orang ingin suksesnya saja, tapi tidak mau pengorbanannya). Namun di masa depan, bisa jadi mereka adalah orang yang justru jauh lebih beruntung daripada orang yang “biasa-biasa” tadi.

Orang-orang yang menempuh “jalan aman” di masa kini, pada akhirnya harus siap menghadapi masa-masa yang makin sulit di masa depan, harga-harga terus naik, inflasi, kebutuhan makin besar, semuanya seakan naik eksponensial, sementara pendapatan mereka “kenaikkanya terlalu bisa diprediksi”, linear dan tidak terlalu besar.

Akhirnya, keputusan untuk “mengamankan” masa kini berbuah “ketidakamanan” di masa depan. Dan lebih sial lagi. Bisa jadi di masa depan energi pasangan tersebut sudah tak besar lagi. Usia mereka tak muda lagi, beban kehidupan makin besar, tantangan hidup makin besar.

Bekal hidup tak siap, bekal karakter juga tak siap.

Seberapa Sering Sebaiknya “Me-nge-rem”?

Mari kembali ke analogi sebentar soal rem.

Ya, banyak atau tidaknya kita menggunakan rem, ketika berkendara, tentu sesuai dengan tujuan dan kondisi kita. Jika Anda hanya pergi ke pasar dekat rumah, yang jaraknya hanya 1 km dan jalanan agak macet, tentu banyak nge-rem itu wajar.

Atau Anda ke kantor yang jaraknya kira-kira 20 km, dan suasana macet, banyak ngerem tentu wajar (ya macet sih).

Tapi jika Anda mau mudik, dan jalanan pada dasarnya tidak terlalu macet,terlalu banyak ngerem tentu tidak bijak… Kapan sampainya ke tujuan? Jarak yang harus ditempuh 475 KM, sementara kecepatan mobil tak lebih dari 40 km/jam dan sering sekali ngerem hehehe. Bisa 3 hari sampainya…

Kehidupan pun seperti itu. Faktanya, para pengendara, mengerem itu tak lebih dari 50% aktivitas mereka. Lebih banyak tekan gas daripada rem. Kenapa? Sebab itulah perjalanan, harus “progressif”, maju ke depan, nggak kebanyakan berhenti. Orang yang maju itu terus berjalan ke depan, bukan takut, berhenti, takut, berhenti (Nggak sampai-sampai).

Ambil keputusan ini segera sebelum diambil orang lain ! Sebab 1 kota hanya akan ada 1 distributor >> KLIK DI SINI !

Coba kalau sepanjang perjalanan ke kantor, Anda lebih banyak nge-rem daripada nge-gas. Bisa-bisa 4 jam baru sampai kantor, jalannya lambaaat banget (mungkin lebih cepat pejalan kaki daripada Anda yang naik motor / mobil hehehe), sampai kantor dimarahi atasan, dan akumulasinya dipecat karena sering terlambat, karena jalannya terlalu hati-hati.

Rem itu ada untuk menyelamatkan kehidupan, bukan menghambat kemajuan. Tidak ada rem atau rem blong bisa menyebabkan kecelakaan. Terlalu banyak rem, akan membuat kita lambat sampai tujuan.

Maka kalau Anda menganggap perjalanan kehidupan Anda panjang, sama seperti mudik di atas. Bijaklah menggunakan rem. Sesekali boleh, cuma jangan terlalu sering, nanti Anda tidak sampai-sampai.

Jangan Hanya Fokus Pada Resiko Hari Ini

Dengarkan nasehat pasangan hidup soal keputusan bisnis dan investasi, dengarkan ketakutannya, dengarkan masukannya. Namun Anda jangan sampai membuat Anda terlalu takut. Sebab bisa jadi pasangan hidup hanya berfokus pada resiko, dan resiko hari ini saja, bukan pada proses apalagi hasil dan juga masa depan.

Cara yang paling bijak adalah, Anda pelajari dulu sebuah peluang bisnis, resikonya, peluangnya, hasilnya di masa depan. Lalu coba jelaskan kepada pasangan hidup dengan baik. Sampaikan antisipasi resikonya, kerugian jika tidak diambil sekarang, dan masih banyak lagi.

Apalagi jika peluang bisnis yang Anda lihat itu semuanya sudah serba jelas, produknya jelas, sistemnya jelas, cara pemasarannya jelas hingga siapa saja yang sudah bergabung jelas (bukan bisnis yang benar-benar baru / belum jelas). Seharusnya meyakinkan pasangan lebih mudah.

Peluang Usaha Distributor Poster Belajar, caranya jelas, pasarnya jelas, produknya jelas, tinggal action >> KLIK DI SINI UNTUK LIHAT DETILNYA !

Sekali lagi, keputusan investasi dan bisnis itu seperti perjalanan. Jika terlalu diperturutkan, bisa membahayakan Anda di masa kini. Tetapi jika terlalu banyak nge-rem, terlalu banyak takut, justru membahayakan Anda di masa depan.

Jadilah orang yang pertengahan. Tetap ambil resiko, namun tetap hati-hati. Tetap berjalan ke depan, namun sesekali perlu juga menge-rem.

Pada akhirnya, kalau kita melihat 2 tipe ekstrim pada bagian awal tulisan ini, mereka yang terlalu “nge-gas”, terlalu progressif, dan menjalani hidup penuh resiko di hari ini pun tidak buruk-buruk amat. Sebab kalau pun mereka jatuh, salah ambil keputusan, hal itu berbuah pengalaman (walau pahit). Sesuatu yang lebih mahal daripada pelajaran apa pun dan justru akan menyelamatkan mereka di masa depan.

Mereka yang terlalu hati-hati, selain perjalanannya bisa sangat lambat, resiko-resiko itu juga akan tetap dihadapi, cuma bedanya resikonya dihadapi belakangan, justru saat energinya tak besar lagi.

Faktanya, orang-orang sukses itu adalah orang yang berani ambil resiko di saat muda, mengalami tribulasi, dan perjuangan di masa muda, lalu di saat tua, mereka tinggal menikmatinya, saat kebanyakan orang masih saja harus kerja keras dengan tenaga yang sudah tidak prima lagi.

Faktanya lagi, sebagian pasangan bisa sangat perhitungan untuk investasi bisnis, investasi masa depan, investasi “pembentukan karakter masa depan”. Namun menjadi sangat terbuka kalau soal kebutuhan konsumtif. Gambarannya : Mengeluarkan uang 5-10 juta untuk modal bisnis, begitu sangat sayang. Tetapi beli HP baru atau jalan-jalan, atau bahkan hal konsumtif lainnya, nggak sayang. Padahal uang keluar sama… dan tidak akan memberikan imbal yang produktif.

Salah satu kunci orang sukses itu mau menunda kesenangan. Mereka menahan diri dari hal-hal konsumtif hari ini justru agar bisa menikmatinya di masa depan…

Pilihan hidup terserah Anda dan pasangan. Namun sebaiknya lihatlah juga masa depan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s